1. Asal Usul dan Penamaan
Sejarah Nagari Koto Rantang berawal dari perpindahan penduduk dari Gadut, Tilatang Kamang, Biaro, dan Palembayan. Mereka mencari daerah baru untuk berladang dan bermukim. Dari perjalanan tersebut lahirlah permukiman yang membentang dari hulu hingga hilir, sehingga dinamakan “Koto Rantang” (koto yang merentang).
Permukiman ini kemudian terbagi menjadi empat jorong:
- Batang Palupuah – dinamai dari peristiwa pembuatan palupuah (alas bambu).
- Muaro – berasal dari palupuah yang hanyut berputar di pusaran air (baMuaro).
- Sitingkai – awalnya bernama Satangkai dari bunga setangkai.
- Mudiak Palupuah – merujuk pada daerah tempat mengangkut palupuah ke bagian hulu.
2. Tokoh Perintis
Beberapa perintis awal yang menempati Koto Rantang antara lain:
- Bagala Maleka Nan Tuo (suku Pili, dari Kapau) – bermukim di Bukit Parumahan.
- Kali Sati (suku Sikumbang, dari Gadut) – bermukim di Parak Mudiak.
- Bagala Bandaro Basa (suku Tanjung, dari Gadut/Sungai Talang) – bermukim di Bukit Monjong.
Mereka bersama rombongan lain menjadi cikal bakal terbentuknya taratak, dusun, hingga berkembang menjadi nagari.
3. Pemerintahan Nagari
Awalnya Koto Rantang merupakan bagian dari Nagari Tilatang Kamang. Pada tahun 1908, dipilih pimpinan pertama yaitu Dt. Sagalo Amuah. Tahun 1942, Koto Rantang resmi menjadi nagari dengan Walinagari pertama Dt. Sampono Kayo.
Perjalanan sejarah pemerintahan:
- 1980 – sesuai UU No. 5/1979, nagari berubah menjadi desa dengan empat desa.
- 2001 – sesuai UU No. 22/1999, nagari kembali dipulihkan sebagai bentuk pemerintahan adat.
Hingga kini tercatat 31 orang wali nagari/kepala desa, dengan wali nagari saat ini Novri Agus Parta Wijaya, S.Pd., M.Pd. (2021–2027).
4. Struktur Adat dan Niniak Mamak
Nagari Koto Rantang memiliki Niniak Mamak 45 Dikato sebagai pemangku adat, yang terbagi ke dalam empat Tapatan Adat:
- Tapatan Adat Batang Palupuah
- Tapatan Adat Sitingkai
- Tapatan Adat Muaro
- Tapatan Adat Mudiak Palupuah
5. Kehidupan Sosial dan Budaya
Masyarakat menganut sistem kekerabatan matrilineal khas Minangkabau. Surau dan masjid menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan aktivitas sosial.
Tradisi yang masih terjaga yaitu Manampuang, tradisi membagi daging kurban secara adil, yang lahir dari masa penjajahan dan hingga kini tetap menjadi simbol kebersamaan dan keadilan sosial.
6. Sejarah Perjuangan
Koto Rantang memiliki jejak penting dalam perjuangan bangsa:
- Palanta Pak Dahlan – pusat pertemuan tokoh perjuangan PDRI bersama Dahlan Djambek.
- Luak Kangkuang – peninggalan Belanda 1926 yang diyakini sebagai tempat pemandian.
- Rimbo Panjang – kawasan hutan bersejarah jalur pejuang, bahkan disebut dalam lagu Minang Sabalun Tabi Matoari.
7. Potensi Alam dan Kawasan Strategis
Nagari Koto Rantang memiliki kekayaan alam dan posisi strategis:
- Cagar Alam Batang Palupuah – habitat bunga langka Rafflesia Arnoldii.
- Sarasah Kalumpang dan Talago Bidadari – wisata air dan panorama alam.
- Rimbo Panjang – hutan bernilai sejarah dan budaya.
- Koto Tabang – termasuk Kawasan Strategis Nasional (KSN), lokasi Observatorium Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang, satu-satunya di Asia Tenggara.
8. Identitas Masa Kini
Koto Rantang menegaskan jati dirinya sebagai nagari yang menyatukan sejarah, adat, budaya, dan pembangunan modern.
Selain mengembangkan wisata edukatif berbasis alam dan sejarah, nagari juga aktif dalam Program Kampung Iklim (ProKlim) dengan kegiatan:
- Konservasi hutan dan sungai
- Pertanian berkelanjutan
- Pengelolaan sampah
- Penanaman pohon buah di jalan tani dan lahan produktif
Inisiatif ini memperkuat ketahanan pangan, ekonomi masyarakat, dan kelestarian lingkungan, serta mengokohkan Koto Rantang sebagai nagari iklim yang tangguh dan berdaya saing.