Nyawa yang Diselamatkan: Kisah Ulama Koto Rantang dalam Bayang-Bayang G30S/PKI

Nyawa yang Diselamatkan: Kisah Ulama Koto Rantang dalam Bayang-Bayang G30S/PKI

30 September 2025 13:09
371 kali dibaca
Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI) merupakan peristiwa politik dan militer yang mengguncang bangsa Indonesia pada tahun 1965. Peristiwa ini tidak hanya menelan korban para perwira tinggi TNI AD di Jakarta, tetapi juga menimbulkan keresahan luas di berbagai daerah, termasuk Sumatera Barat.

Bagi masyarakat Minangkabau, termasuk Nagari Koto Rantang di Kecamatan Palupuh, gema peristiwa tersebut menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap ideologi komunis yang secara terang menolak keberadaan agama. Falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menjadi benteng yang memelihara masyarakat agar tidak goyah. Dalam suasana tegang itu, peran niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai sangat sentral dalam menjaga kehidupan sosial dan keagamaan.

Sejarah lokal Koto Rantang turut mencatat kisah seorang ulama berpengaruh, Amran Syafri Tk. Rajo Mangkuto dari suku Sikumbang, yang tak lain adalah kakek penulis. Beliau pernah mengalami peristiwa tragis ketika dibawa oleh sekelompok orang yang terpengaruh ideologi komunis. Dengan tangan terikat pada batang kayu, beliau hampir dieksekusi. Namun atas kuasa Allah SWT, eksekusi tersebut tidak terlaksana. Saat genting itu, salah seorang sahabat dekat beliau, Inyiak Dt. Sampono Ameh (alm.)—ayah dari mantan Wali Nagari Koto Rantang, S.Y Dt. Batuduang Dilangik—turut berperan penting dalam menyelamatkan nyawanya.

Kisah ini telah lama hidup dalam ingatan keluarga besar dan masyarakat Koto Rantang. Bagi penulis sebagai keturunan beliau, peristiwa itu bukan sekadar cerita sejarah, melainkan warisan berharga yang menunjukkan bahwa ulama pernah menjadi target utama kelompok komunis. Ancaman tersebut justru meneguhkan keyakinan bahwa ulama dan tokoh adat adalah benteng terakhir ketika ideologi sesat berusaha merongrong nagari.

Dengan demikian, G30S/PKI bukan hanya catatan kelam dalam sejarah nasional, tetapi juga bagian dari memori kolektif masyarakat Koto Rantang. Ia meneguhkan identitas nagari sebagai benteng keislaman dan kebangsaan, serta amanah sejarah yang harus terus dikenang dan dijaga oleh generasi penerus.

Ditulis Oleh :
Walinagari Koto Rantang
Novri Agus Parta Wijaya, S.Pd., M.Pd